Detikcom Numero Uno,.??

Tentang detikcom. Apa keunggulannya, mengapa ia tetap eksis. Tidak sedikit yang mencela (soal teknologinya, desainnya, iklannya yang mengganggu, archivenya yang katanya tak bisa diakses setelah dua pekan). Di balik seluruh kelemahannya, kompas.com dan lainnya dianggap belum bisa mengikuti detikcom

kompascomKoran Kompas yang begitu hebat brand awareness-nya di cetak, ketika masuk ke online melalui Kompas.com/Kompas.co.id, tak mampu menyaingi Detikcom. Baik dari sisi trafik maupun income, saat ini Kompas.com masih kalah jauh dibanding Detikcom. Apa kurangnya Kompas? Nama besar, ia punya. Reporter dan tim redaksi yang handal, mereka ada. Manajemen yang tangguh, mereka pasti punya. Bahkan uang untuk investasi pun mestinya jauh berlimpah ketimbang Detikcom. Lantas, mengapa hingga kini pun mereka tidak mampu mendekati, apalagi menyaingi Detikcom?

Untuk skala nasional, media berita online memang tidak dapat dipungkiri telah dikuasai oleh detik.com. Oleh karena itu, kita bisa mulai menguasai pangsa pasar media online lokal saja yang masih lowong dan terbuka lebar dengan segala fasilitas yang lengkap dan bermanfaat bagi pembacanya. Alasannya adalah:

1.nama detik sudah “mendarah daging”
2. fitur iklan yang tidak mengganggu pembaca.
3. dan tentu saja berita yang selalu update

Alasan lain kenapa detik.com unggul, simple aja. karena detik punya keunikan.mulai dari namanya yang nggak “umum”, kemudian dari tampilan warnanya yang norak, memang dari pandangan seorang webdesigner detik itu designnya nggak ok banget deh, but hey.. its work, pengunjung jadi lebih kenal bahwa itu adalah tampilan nya detik.com, walaupun nggak oke lama2 pengunjung jadi terbiasa dan suka (sama dengan saya yang anti kangen band tapi setelah dengerin beberapa kali jadi suka juga sama musiknya…halah… hehehe..) …. kompas.com…okezone.com mungkin bisa bangga bahwa tampilannya lebih bersih dari detik tapi mereka nggak punya keunikan dan ciri khas.detikcom

Terlepas dari apakah media online yang baru muncul selalu “harus” bisa mengalahkan existing (online) media, untuk membuat sebuah online (news) media, sering melupakan 3 aspek utama:

– Jurnalisme, kaidah jurnalistik yang digunakan kebanyakan masih menggunakan pola lama (yang diterapkan di “media konvensional”).
– Komunikasi, “mengingkari” teori-teori dasar komunikasi, bahwa pesan adalah media itu sendiri, artinya media dibuat memang untuk publik, bukan untuk (selera dan ego) pengelolanya.
– Teknologi, menempatkan teknologi sebagai pembawa pesan, bukan penyampai pesan. Artinya teknologi hanya dipandang sebagai carrier.

Faktor lain adalah faktor “masa”. Membuat media yang relevan dengan masa ketika media itu dibuat, adalah titik tolak untuk keberhasilan media tersebut. Titik lontar berikutnya adalah kemampuan visioner untuk “membaca” masa selanjutnya

Faktor terakhir adalah keinginan publik: apakah sekarang sudah membutuhkan online (news) media lebih dari satu? Jika jawabnya BELUM, maka detikcom akan tetap berkibar

Advertisements

~ by mohamadilham on August 10, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: